Skip to main content

3 Cara Fermentasi Kopi Terlaris Pasca Panen ( Panduan Lengkap dan Jelas )

Kopi hasil fermentasi sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam dunia kopi. Tak banyak yang mengetahui proses panjang perjalanan sebuah kopi pasca panen. Secara umum dikenal dua cara mengolah buah menjadi biji kopi, yakni proses basah (washed) dan Proses Kering (Dry).

Bermacam cara pecinta kopi meningkatkan citarasa kopi agar memiliki nilai harga jual tinggi dan digemari banyak orang seperti fermentasi kopi dengan buah nanas yang akan menghasilkan kopi rasa nanas.

Pecinta kopi setidaknya tahu dasar pengolahan kopi pasca panen hingga tetes terakhir cangkir kopi. Dengan fermentasi aroma kopi lebih tajam dan memberikan nuansa baru di lidah, jadi tak hanya rasa pahit yang di kenal masyarakat selama ini.

Cara Pengolahan Biji Kopi :

1. Proses Kering / Dry / Alami / Natural
Proses ini adalah yang tertua dan tampaknya merupakan proses paling sederhana dalam konteks proses kopi pasca panen. Proses ini adalah proses pasca panen pertama yang dilakukan oleh petani kopi di Ethiopia pada awal pengembangan kopi sebagai komoditas.

Dalam proses ini, biji kopi yang sudah dipetik dikeringkan langsung di bawah sinar matahari hingga kering (kadar air 11-12%).

Setelah buah kopi kering, buah dikupas dan ditumbuk menjadi beras kopi. Proses ini akan optimal jika dilakukan di daerah yang memiliki paparan sinar matahari yang cukup dan konsisten.

Durasi pengeringan kopi yang optimal dalam proses alami berkisar antara 21-28 hari. Lebih dari durasi itu, karakter fermentasi yang berlebihan (seperti dalam kopi anggur) akan nampak mendominasi rasa.


Dalam proses ini baik kulit, daging, dan lendir kopi tetap melekat pada biji kopi dan akhirnya berkontribusi pada rasa biji kopi. Dalam kondisi yang optimal, rasa tambahan daging dan lendir buah kopi akan memberikan karakter berbuah kompleks untuk rasa dan aroma kopi.

Perlu juga dipahami, rasa kopi alami yang lincah tidak berarti bahwa kopi memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Sebaliknya, proses alami akan menghasilkan tingkat keasaman yang rendah. Selain itu, karena kulit dan daging kopi juga memiliki rantai glukosa, karakter manis biji kopi juga akan meningkat.

Ciri khas lain dari proses ini adalah intensitas tinggi tubuh dalam kopi. Salah satu kelemahan dari proses ini adalah tidak ada proses penambangan / perendaman, sehingga penyortiran berdasarkan gravitasi spesifik kopi tidak terjadi.

Akibatnya, biji kopi muda dan cekungan tidak diurutkan dan menghasilkan biji yang rusak selama proses pemanggangan.

2. Washed / Proses Basah
Proses ini adalah salah satu proses paling umum yang dilakukan oleh pengolah kopi di seluruh dunia. Dalam proses ini, daging, kulit dan lendir kopi dibersihkan lebih awal sehingga elemen-elemen ini tidak berkontribusi signifikan terhadap biji kopi.

Proses ini dimulai dengan perendaman buah kopi dalam air untuk memilah buah kopi yang diisi dan berlubang. Kemudian setelah itu dilakukan pengupasan kulit dan daging buah kopi (pulping). Proses pengupasan dilakukan dengan mengalirkan mesin pengupas dengan air untuk membersihkan sisa-sisa kulit dan daging buah. 

Di luar mesin pengupas, biji kopi basah disimpan di reservoir yang diisi air. Setelah reservoir penuh, biji kopi kemudian dicuci lagi dengan air mengalir sampai sebagian besar lendir hilang. Setelah itu, biji kopi direndam selama 12-24 jam untuk membersihkan lendir dan fermentasi awal.

Setelah direndam, biji kopi dikeringkan di bawah sinar matahari hingga kering (kadar air 12-13%) dan kemudian ditumbuk (dikuliti) menjadi beras kopi (biji hijau).

Karena tidak melibatkan elemen lendir kulit, daging, dan kopi selama pengeringan, proses basah dapat dikatakan sebagai proses yang memberikan fokus pada karakter asli biji kopi.

Dengan demikian, rasa yang timbul sebagian besar berasal dari penyerapan nutrisi alami di pohon kopi dan faktor lingkungan lainnya selama penanaman. Jika Anda ingin mengetahui detail karakter asal salinan, maka proses ini adalah yang paling tepat untuk menggambarkannya.

Karakter khas dari proses ini adalah rasa kopi yang jelas dan keasaman yang cemerlang. Dibandingkan dengan proses pasca panen lainnya, proses ini memiliki karakter tubuh paling rendah tetapi keasaman tertinggi.

Di sisi lain, proses perendaman kopi yang dilakukan dalam proses ini akan menghasilkan beras kopi dengan tingkat cacat minimum.

3. Honey / Proses Alami Madu
Proses madu dapat dikatakan sebagai proses favorit pasca panen dari pengolah dan pembuat bir spesial. Ketika dilakukan secara optimal, proses ini dapat mempertahankan karakter dasar dari biji dan di sisi lain juga dapat menambahkan karakter yang manis dan kompleks pada biji kopi.

Proses pasca panen ini dapat dikatakan turunan dari proses alami, meskipun beberapa mengklaim bahwa proses ini merupakan perkawinan dari proses basah dan alami. Proses ini dimulai dengan pengupasan kulit buah kopi (pulping).

Pengupasan ini bisa melibatkan air atau tidak. Gabah yang sudah dikupas dan masih berlendir kemudian dijemur hingga kering. Nama "madu" itu sendiri muncul karena selama pengeringan, lendir kopi akan berubah menjadi plasma lengket yang menyerupai madu.

Jumlah lendir yang masih melekat pada biji kopi setelah pengupasan kulit, menentukan karakter akhir biji kopi. Intensitas lendir yang juga mempengaruhi lamanya pengeringan, mengurangi beberapa sub-varian dari proses madu, yaitu:

- Yellow honey / Madu Kuning
Penamaan Madu Kuning mengacu pada warna biji kopi pada akhir pengeringan. Dalam proses ini, sisa lendir hanya sekitar 10-25%. Jika lendir yang tersisa kurang dari 15%, sering dipisahkan sebagai proses Madu Putih.

Karena lendir yang menutupi biji-bijian kopi kurang, periode pengeringan untuk mengeringkan dalam proses ini membutuhkan waktu yang lebih singkat daripada proses madu lainnya. Umumnya proses ini memakan waktu antara 7-12 hari.

- Red Honey /Madu Merah
Dalam proses Red Honey, sisa lendir dalam biji kopi berkisar 25-50%. Pada saat pengeringan terakhir warnanya cenderung merah tua. Durasi pengeringan proses Merah Madu berkisar antara 12-28 hari, tergantung pada cuaca dan pola pengeringan. Proses madu ini adalah yang paling umum dilakukan di Indonesia.

- Black Honey / Madu Hitam
Dalam hal warna akhir biji-bijian, sesuai dengan namanya, biji kopi akan menjadi gelap dan cenderung kehitaman. Warna gelap berasal dari ketebalan lendir kopi yang menutupi biji kopi. Proses ini 50-75% lendir kopi berasal dari buah kopi sebelum dikupas.

Dalam spektrum proses madu, proses ini adalah yang paling sulit dilakukan karena membutuhkan akurasi tinggi dalam pengaturan mesin pengupas (hanya mengupas kulit luar saja). Proses ini membutuhkan durasi pengeringan antara 28-30 hari.

Dari segi rasa, proses madu memiliki campuran proses kering dan basah. Semakin gelap warnanya (menuju proses Black Honey), rasanya akan lebih dekat dengan karakter kopi alami, dan sebaliknya. Dalam kondisi optimal, proses madu akan menghasilkan rasa yang jelas dan bersih, tetapi dengan tingkat kemanisan dan kompleksitas yang baik.

Di tangan pemroses kopi yang andal, semua kebaikan rasa asli biji kopi dan optimalisasi rasa turunan dari proses pasca panen dapat dibesarkan dalam satu jenis kopi.

3 Cara Fermentasi Kopi Terlaris paling banyak diminati banyak orang Pasca Panen, Artikel Panduan Lengkap dan Jelas diatas semoga dapat membantu anda.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar